Alfa Computer : Jl Raya Watudandang Prambon Nganjuk (1/3an SMPN 1 Prambon)

Minggu, 10 Juni 2012

Malin Kundang



Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.

"Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Pesan Moral : Sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan semua jasa orangtua terutama kepada seorang Ibu yang telah mengandung dan membesarkan anaknya, apalagi jika sampai menjadi seorang anak yang durhaka. Durhaka kepada orangtua merupakan satu dosa besar yang nantinya akan ditanggung sendiri oleh anak.

Malin Kundang

At one time, there lived a family of fishermen on the coast of Sumatra. The family consists of father, mother and a son, named Malin Kundang. Due to poor financial condition of the family, the father decided to make a living in the country by wading across a vast ocean.

Then the Malin and her mother stayed in their huts. A week, two weeks, a month, two months and even had one more year old, not Malin's father also returned to his hometown. So that his mother had to replace Malin's father to make a living. Malin including a smart kid but a bit naughty. He often chasing chickens and hit him with a broom. One day, when Malin was chasing a chicken, he tripped over a rock and a rock hit his right arm injury. The injury was a trace dilengannya and can not be lost.

After growing up, Malin Kundang feel sorry for her mother who worked hard to earn a living to raise her. He thought for a living in the country side in hopes of later on when returning home, she was already a wealthy man. Malin interested in the solicitation of a merchant ship captain who was once the poor have now become a wealthy man.

Malin Kundang expressed intention to his mother. His mother does not agree with the intent of the original Malin Kundang, but because it continues to urge Malin, Malin Kundang mother finally agree though with a heavy heart. After preparing supplies and equipment as necessary, Malin immediately escorted to the dock with his mother. "My son, if you are successful and become a wealthy man, do you remember your mother and halamannu this village, son," said Mrs. Malin Kundang in tears.

Malin ridden ships that are increasingly distant wave, accompanied by Mrs. Malin Kundang. During their stay in the boat, Malin Kundang a lot to learn about seamanship on the crew who are already experienced. Along the way, suddenly climbed Malin Kundang ship attacked by pirates. All merchandise traders who were on the ship seized by pirates. Even most of the crew and people on the ship were killed by the pirates. Malin Kundang very lucky he was not killed by the pirates, because when it happened, Malin immediately hid in a small space enclosed by the timber.

Malin Kundang adrift amid the sea, until finally the ship was stranded on a beach. With the rest of the existing power, Malin Kundang walked to a nearby village from the beach. Arriving in the village, Malin Kundang helped by people in the village after previously telling what happened to him. Marooned villages where Malin is a very fertile village. With tenacity and perseverance in work, over time Malin had become a wealthy man. It has a lot of merchant ships with men of more than 100 people. Having become rich, Malin Kundang marry a girl to be his wife.

Malin Kundang news that has become wealthy and have been married to the mother also Malin Kundang. Mrs. Malin Kundang feel grateful and very happy his son has succeeded. Since then, the mother of Malin Kundang every day to go to the dock, waiting for her son who may return to his hometown.
After a long marriage, Malin and his wife set sail with a large and beautiful ship with the crew and a lot of bodyguards. Malin Kundang mother who stayed with his son every day, saw a very beautiful ship, entered the harbor. He saw two people standing on the deck. He believes that it is his standing and his wife Malin Kundang.

Malin Kundang came down from the ship. He was greeted by his mother. Once close enough, she saw twelve people injured dilengan right, the more convinced his mother that he was approached Malin Kundang. "Malin Kundang, my son, why did you go so long without sending any news?", She said, hugging Malin Kundang. But what happens then? Malin Kundang immediate release of his mother's arms and pushed him to fall. "Women do not know myself, as my mother carelessly admitted," says Malin Kundang to his mother. Malin Kundang pretended not to recognize his mother, because of shame with her old mother and dressed in rags.

"She's your mother?", Malin Kundang wife Tanya. "No, he was just a beggar who pretended to be admitted as a mother to get my property," Malin said to his wife. Heard the statement and treated unfairly by his son, the mother of Malin Kundang very angry. He had not expected her to be a rebellious child. Because of mounting anger, the mother of Malin tipped his hand saying "Oh God, if he my son, I sumpahi he became a rock". Not long after strong winds and storms rumbled come to destroy the ship Malin Kundang. After that Malin Kundang body slowly becomes stiff and gradually eventually shaped into a rock.

Moral: As a child, never forget all the services of parents, especially to a mother who was pregnant and raise their children, especially when it comes to being a rebellious child. Disobedience to parents is a major sin which will be borne by the children

0 komentar:

Silahkan Beri Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com