Alfa Computer : Jl Raya Watudandang Prambon Nganjuk (1/3an SMPN 1 Prambon)

Senin, 11 Juni 2012

Pantomim TK satu atap Watudandang


Pantomim
CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN

Cucitangan sebelum makan merupakan salah satu tema yang digarap sebagai ide dasar pantomim ini. Amel dan Naraya sebagai peraga atau pemainnya memiliki karakter yang berbeda, dimana Amel sebagai anak yang mandiri, seseorang yang menghargai waktu, dan selalu melakukan hal-hal yang baik pula. Berbeda jauh dengan Naraya yang merupakan tergolong anak manja, sesuka hatinya melakukan kegiatan apapun, dan yang pasti tidak menghargai waktu.
Cucitangan sebelum makan diawali dari minggu pagi yang cerah dimana Amel sendang mencuci bajunya, ditengah-tengah kegiatannya Naraya berkunjung kerumah Amel, karena begitu sibuknya Amel, sampai tidak tahu kalau Naraya sudah cukup lama mengetuk pintu rumahnya. Beberapa kali diketuknya pintu rumah Amel, barulah Amel mendengarnya dan secepat mungkin membukakan pintu. Amel mulai mencari kunci pintu di saku bajunya dan membuka pintu, setelah pintu dibuka ternyata tidak ada seorangpun yang berdiri di depannya, Amel dengan bingung mencari. Ternyata apa yang Amel cari telah jatuh terkena pintu. Naraya dengan sekuat tenaga memanggil Amel, dengan harapan akan menolongnya. Amel dengan perasaan bersalah menolong Naraya, sembari berdiri dan membersihkan bajunya Naraya mengajak Amel bermain tanah di samping rumah Amel.
 Amel melihat jam tangannya memastikan apakah sudah waktunya untuk bermain, ternyata jam tangannya menunjukkan pukul 09.00, yaitu waktu untuk bermain, tidak lupa Amel mengunci pintun dan dengan riang gembira mereka bermain tanah. Amel mendapat tugas mengambil tanah dan meletakkannya diatas meja, dengan cekatan Naraya mulai membuat pondasi istana tanah yang akan mereka buat. Amel dan Naraya senang sekali bermain bersama, sampai akhirnya perut Naraya berbunyi menandakan bahwa Naraya lapar. Naraya meminta permainan ini diakhiri dan bergegas makan. Amelpun melihat jam tangannya memang waktunya makan siang, Amel mulai berfikir dan memutuskan makan siang dirumahnya, dengan hati riang gembira Naraya menyetujui.
Bergegaslah Amel membuka pintu rumah dan mereka mulai menuju dapur dimana tempat makanan berada, dengan cepat Naraya langsung mengambil nasi, lauk-pauk, dan mulai memakan makanan yang ada. Amel dengan  spontan menegur Naraya meminta untuk cucitangan dulu sebelum makan. Naraya menolak permintaan temannya itu sembari terus makan dengan rakus. Amelpun meninggalkan Naraya sejenak memcucitangannya dengan sesekali bermain buih yang ada di tangan, selesai mencuci tangan Amel bergegas mengambil makanan, dan mulai memakannya bersama Naraya dimeja makan rumahnya. Naraya dengan kejailannya sesekali menggoda Amel yang makan dengan tenang, namun amel dengan sabar menyikapi ulah temannya itu.
Makan siangpun telah usai Amel langsung menuju dapur untuk mencuci piring dan peralatan makan yang digunakan, berbeda dengan Naraya yang menyusul dibelakang amel ternyata hanya untuk menaruh peralatan makannya untuk dicucikan oleh Amel, dan dengan tanpa bersalah langsung bermain sepeda di depan halaman rumah Amel dengan tangan penuh sisa-sisa makan. Amel dengan sabar menyikapi perbuatan temannya sembari berfikir tak apalah berbuatat baik akan mendapatkan kebaikan pula. Setelah mencuci peralatan makan Amel bergegas menuju halaman rumahnya, dengan latang Naraya mengajak Amel bersepeda bersamanya, Amel menganggukkan kepala bertanda bahwa menyetujui ajakan. Mereka dengan hati yang gembira bersepeda mengitari halaman rumah Amel yang cukup luas itu. Cukup lama kegiatan itu berlangsung sampai tiba-tiba perut Naraya sakit dan merasa kalau ingin buang air besar, bergegaslah Naraya menuju kamar mandi rumah Amel dan secepat mungkin langsung memasuki kamar mandi itu. Amel menyusul di belakang Naraya sembari khawatir dengan keadaan Naraya. Amel dengan hati yang resah mengetuk pintu kamar mandi memastikan bahwa Naraya dalam keadaan baik. Narayapun bergegas keluar dari kamar mandi berkata bahwa baik-baik saja, berselang tidak lama Naraya bergegas memasuki kamar mandi lagi karena merasakan bahwa memang ingin buang air besar lagi. Kegiatan itu berulang-ulang beberapa kali, dan disela-sela kegiatan itu Amel mulai berfikir penyebab sakit perut Naraya. Ternyata sakit itu diakibatkan bahwa Naraya tidak cucitangan sebelum makan, pastilah kuman, penyakit yang ada menyerang perut Naraya sehingga mengakibatkan sakit perut yang berkepanjangan.
Melihat temannya kesakitan Amel bergegas mengajak Naraya kedokter terdekat untuk meminta obat agar Naraya segera sembuh dari sakitnya. Sesampainya di dokter akibat sakit perut Naraya terditeksi dan hasilnya sama dengan apa yang difikirkan Amel, yaitu Naraya tidak mencucitangan sebelum makan. Naraya dengan mimik muka malu bercampur sedih, kecewa bahwa tadi tidak mendengarkan perkataan temannya. Dengan kejadian tersebut Naraya berjanji bahwa akan selalu mencuci tangan sebelum makan.
Cerita ini diharap dapat dijadikan pedoman bahwa cucitangan sebelum makan termasuk upaya menjadikan hidup sehat, dan mencegah terjadinya sakit, dengan hal sekecil ini memiliki dampak yang cukup besar. Diharap dengan pantomim yang mengusung tema cucitangan sebelum makan dapat memberi contoh yang baik bagi semua kalangan.

Peraga/ pemain:
1. Naraya
2. Amel

0 komentar:

Silahkan Beri Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com